PROSES KOGNITIF MATEMATIKA


PROSES KOGNITIF

Secara umum kognitif diartikan potensi intelektual yang terdiri dari tahapan : pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehention), penerapan (aplication), analisa (analysis), sintesa (sinthesis), evaluasi (evaluation). Kognitif berarti persoalan yang menyangkut kemampuan untuk mengembangkan kemampuan rasional (akal)
Manusia senantiasa dikelilingi oleh beraneka ragam fenomena  alam yang mempengaruhi pertumbuhan fisisnya serta perkembangan mentalnya. Dengan sturuktur mental yang dimikinya, manusia mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan kehidupannya. Kebutuhan manusia akan selalu ada dan tidak akan pernah habis serta selalun ingin berada dalam keadaan seimbang. Kebutuhan-kebutuhan itulah yang mendorong manusia mencari cara  yang dapat memuaskan kebutuhannya. Rangkaian pengalaman-pengalaman hidupnya tersusun menjadi schemata digunakan untuk memahami hal-hal yang baru. Oleh karena itu, akan selalu terjadi perubahan-perubahan. Semua berjalan dalam suatu proses yang saling kait satu sama lain untuk mencapai satu tujuan. Tujuan proses itu adalah perubahan. Perubahan itulah merupakan manifestasi perubahan belajar.
Perubahan belajar sebagai suatu proses dipandang dan didefenisikan oleh para ahli dari sudut pandang yang berbeda. Kalangan behavioris meninterventasikan belajar sebagai hasil pengalaman beruba perubahan tingkah laku yang dapat diamati. Jadi belajar hanya di pandang dari sisi yang dapat diamati secara secara langsung, yakni perubahan tingkah laku seseorang. Lain hanya dengan pandangan teori kognitif, melihat belajar itu dari aspek-aspek mental  yang terlibat dalam proses perubahan tingkat laku seseorang. Dengan kata lain, pandangan ini cenderung menekankan pada mekanisme pemahaman yang di miliki manusia.

 Pandangan belajar kognitif tentang teori belajar
Psikologi kognitif berorentasi eklektikan yang merupakan gabungan atau komplilasi dari beberapa teori yang melibatkan aspek kognitif di dalamnya. Adanya teori eklektipan di dasarkan pada anggapan bahwa setiap teori mempunyai kelebihan dan kelemahan tersendiri. Oleh karna itu sebelumnya tidak ada teori belajar kognitif secara khusus atau yang berdiri sendiri, tetapi merupakan bagian dari teori.
Belajar dalam teori kognitif di jelaskan dengan menitip beratkan perbuatan belajar itu pada mekanisme mental manusia dalam proses memahami informasi apa saja, mulai dari hal yang sangat sederhana  sampai dengan hal-hal yang paling rumit. Hal tersebut berbeda dengan pandangan behavioris. Yang menitip beratkan pada manivestasi perbuatan belajar yang dapat mengamati langsung sebagai hasil pengalaman berupa perubahan tingkat laku. Oleh karena itu, belajar didefinisan sebagai perubahan dalam struktur mental seseorang yang berperan atau yang bertugas mengubah tingkah lakunya . struktur mental yang dimaksud adalah pengetahuan, kepercayaan diri, keterampilan, pengharapan dan mekanisme lain yang ada pada diri manusia.
Struktur mental tersebut serta mekanisme otak manusian merupakan suatu hal hyang rumit dan tidak dapat dilihat secara langsung tetapi perlu diketahui mekanismenya untuk memberikan kejelasan bagaimana struktur metal seseorang mengubah tingkahlakunya.



Pemprosesan informasi
Pemprosesan informasi adalah bagian utama dalam kajian teori kognitif yang membahas bagaimana pengetahuan itu diterima, disimpan, lalu dipanggil di dalam memori manusia. Dalam pemprosesan tersebut terdapat tiga unsur utama yaitu :
a.       Bak penampungan informasi atau bak memori ( gudang data );
b.      Proses kognitif ( gerakan / aktivitas memori );
c.       Metakognisi ( pemantau/penggerak/koordinator memori )
 


       Proses-proses kognitif
Proses-proses kognitif merupakan kegiatan intelektual yang terjadi di dalam otak manusia yang berfungsi meramu dan memindahkan informasi dari satu bak ke bak memori lainnya. Kegiatan intelektual yang dimaksud adalah perhatian (attention) , persepsi (perception), pembiasaan (rehearsal), penyandian (encoding), dan pemanggilan (retrieval). Kegiatan inilah yang sangat berperan bagi manusia dalam proses memahami sesuatu informasi hingga menjadi pengetahuan-pengetahuan untuk kebutuhan hidupnya.
1.      a. Perhatian (Attention)
Di dalam ruangan yang sedang ditempati berdiskusi saat ini, terdapat stimulan yang tak terhitung jumlahnya. Benda-benda yang tampak oleh penglihatan, suara kursi yang berderik, bau-bauan yang silih berganti, udara panas dan dingin yang ditangkap oleh indrra perasa, semuanya merupakan contoh stimulant yang kehadirannya nyaris tak disadari. Apabila sekarang ini penglihatan kita digerakkan untuk membaca kalimat-kalimat yang tertulis pada paragraph ini, atau dengan segaja mendengarkan suara orang yang membacakan paragraph ini, maka saraf-saraf di otak kita sedang melakukan lebih muda baginya menanggapi materi itu dan kemungkinan penanggapannya akan lebih baik dibandingkan dengan orang yang belum memiliki schemata tentang hal tersebut.
2.      b. Persepsi (Perception)
Hal lain adalah harapan yang diinginkan untuk dialami. Persepsi seseorang juga dipengaruhi harapan-harapannya untuk mengalami sesuatu. Misalnya, anda diberitahu bahwa si A adalah orang yang baik, maka pada saat itu anda sudah mempunyai persepsi positif terhadap A. harapan anda tentunya akan berhadapan dengan si A yang baik. Pada saat anda bertemu dengan si A, kemudian apa yang anda harapkan tidak sesuai kenyataan, atau si A itu kejam misalnya, maka praktis pada saat itu harapan anda sirna dan persepsi anda tentang si A juga berubah.
Untuk mengecek benar –tidaknya persepsi atau tanggapan pebelajar, dapat dilakukan dengan memberikan pertanyaan terbuka atau menerangkan. Artinya, pertanyaan itu memungkinkan beragam jawaban. Bila ternyata siswa bisa menjelaskan dengan baik, maka persepsinya sudah benar. Kalau tidak, hendaknya dibetulkan kembali. 
3.      c. Pembiasaan ( Rehearsal )
Pembiasaan dapat dilakukan dengan melatih diri atau mengulang-ulangi informasi agar bisa dipertahankan di bak ingatan atau diteruskan ke bak kenangan. Hal ini dilakukan oleh otak manusia karena terbatasnya kapsitas dan kurun waktu bak ingatan. Cara  yang bisa dilakukan untuk memindahkan informasi yang penting ke bak kenangan adalah pembiasaan. Ada dua jenis pembiasaan yang dapat dilakukan, yaitu pembiasaan yang sinambungan dan pembiasaan yang relaboratif. Pembiasaan yang sinambung misalnya kegiatan shalat atau menghafal surah, dilakukan secara berulang-ulang tanpa perubahan bentuk. Adapun pembiasaan elaborative atau menggunakan batu loncatan adalah menghubungkan informasi yang akan diingat dengan menggunakan informasi lain yang ada di bak ingatan. Misalnya, bila anda tahu bahwa tahun 1945 adalah tahun kemerdekaan Indonesia, kemudian anda memiliki nomor akses ATM juga 1945, maka untuk mengingatnya, anda dapat mengingat tahun kemerdekaan terlebih dahulu. Hal ini sejalan dengan penegrtian “loncatan berpikir”.
4.      d. Penyandian ( Encoding )
Encoding akan terjadi bila seseorang membentuk bayangan informasi tentang sesuatu di dalam benaknya kemudian mengistirahatkannya dalam bak kenangan. Kegiatan encoding merupakan kegiatan yang mengatur dan mengaitkan informasi baru dengan informasi yang sudah ada di bak kenangan. Maksudnya, bila seseorang sudah memiliki pengetahuan dalam tentang sesuatu, maka akan lebih mudah baginya memahami sebuah informasi baru dengan cara menghubungkan informaisi lama dengan informasi yang baru saja diperoleh. Semakin banyak schemata, semakin besar kemungkinannya untuk melakukan kegiatan encoding.
Cara yang dapat dilakukan untuk encoding adalah dengan mengulang-ulang informasi tersebut dan mengupayakan agar kegiatan belajar sedapat mungkin bermakna. Kebermaknaan menggambarkan sejumlah hubungan/asosiasi antara satu ide dengan ide lainnya. Seseorang yang sudah memiliki pengetahuan dasar tentang perkembangan mental anak usia 1-3 tahun akan lebih mudah memahami prilaku anak di usia tersebut dibangdingkan dengan seseorang yang sama sekali belum memilki pengetahuan dasar tentang hal itu. Bagi yang sudah berskemata akan merasakan kebermaknaan dalam kegiatan memahami informasi baru tersebut dan lebih mudah baginya untuk menyimpannya di bak kenangan, karena jenis pengetahuannya yang sama. Hal ini yang perlu diperhatikan bahwa untuk membuat informasi lebih bermakna dan lebih mudah disimpan di bak kenangan dapat dilakukan dengan menguraikan atau memproses informasi itu lebih dalam. Semakin dalam informasi itu diproses, semakin banyak penghubungan yang bisa dikaitkan dengan informasi tersebut. Dengan sendirinya, informasi itu akan lebih bermakna. Misalnya, untuk memberikan pengetahuan pada siswa mengenai sebuah planet,  tidak cukup hanya dengan menjelaskan nama dan posisinya. Untuk membuat informasi itu lebih bermakna, perlu diuraikan juga mengenai ukuran, kala rotasi, suhu, jaraknya ke matahari, dan keterkaitan lainnya dalam tata surya sehingga diharapkan kelak akan lebih mudah menghubungkannya dengan informasi baru.
      e. Lupa ( kegagalan dalam Retrieval )
Pembahasan mengenai memori atau ingatan dan prosesnya tidak lengkap bila belum membahas masalah ‘lupa”. Lupa atau melupakan adalah kegagalan dalam menginat. Informasii yang ditampung di bak kesan dilupakan bila tidak segera diproses. Ingatan akan hilang bila tidak sering diulang-ulang. Kenangan juga masih bisa terjadi kerusakan dalam fungsi memori dan sebagainya.
Terjadinya lupa dapat disebabkan oleh adanya informasi lain yang hampir sama dan mengacaukan pemahaman seseorang. Misalnya, dalam pelajaran bahasa inggris mengenai penggunaan to be. Pada pengenalan konsep to be. Diartikan bahwa bila kalimat akan menggunakan kara sesudah subyek, maka to be tidak boleh digunakan. Konsep ini telah mengakar sampai pada saat pembelajar menemukan bentuk pasif dan progresif. Dalam kasus tersebut, pembelajaran akan ragu dengan pemahaman konsep awalnya mengenai to be. Bila bentuk pasif dan progressif dijelaskan kepadanya, mungkin akan terjadi kekacauan pemahaman tentang penggunaan to be karena bisa juga digunakan dalam kalimat verbal lainnya, pebelajar akan menggunakan to be secara serampangan akibat adanya ketergangtungan oleh bentuk pasif dan progresif tersebut.
Untuk mengatasinya, disarankan muntuk memberikan review dan perbandingan dalam penggunaan konsep yang serupa. Selain itu, dapat juga diajarkan secara berdekatan dengan menjelaskan persamaan dan perbedaannya.
Lupa juga dapat terjadi karena informasi yang tersimpan dalam bak kenangan tidak dapat lagi dipanggil karena informasinya sudah tidak bisa ditemukan. Informasi yang tersimpan dalam bak kenangan tetap berada di sana selamanya, hanya tidak bisa ditemukan lagi. Inillah yang disebut dengan gejala tif-of-tongue ( ujung lidah ) atau kira-kira dapat diterjemahkan dengan istilah kehabisan akal atau mati akal atau buntu otak.
     Untuk mengatasi hal tersebut, peran konteks diharapkan dapat membantu. Dalam usaha mengiungat suatu kesan, cobalah terawangkan pikiran pada konteks-konteks yang mungkin sesuai dengan informasi yang baru saja diterima. Misalnya, untuk mengingat yang seseorang yang pernah dikenal pada suatu kesempatan, perlu mengganti beberapa konteks yang kira-kira sesuai dengan orang itu dan keluar dari konteks sekarang. Memanfaatkan konteik adalah salah satu cara membantu mengingatkan. Oleh karena itu, sangat dianjurkan bagi pengajar untuk memberikan beberapa masalah memulai suatu materi. Masalah-masalah tersebut akan dijadikan sebagai schemata yang akan dihubungkan  dengan materi yang akan segera diajarkan



PERTANYAAN:
          JIka dalam sebuah kasus, seorang siswa dalam pemrosesan informasi yang diterima mengalami kesulitan atau keterlambatan sehingga kemampuan kognisi siswa tersebut terbilang rendah, Jika dilihat dari unsur-unsur utama pemrosesan informasi (Bak memori, Proses kognitif, Metakognisi ) manakah yang sangat berperan dalam pemrosesan informasi seorang individu dan bagaimanakah cara atau solusi untuk siswa yang memiliki kesulitan dalam pemrosesan informasi yang diterimanya?
c.       

 



 

Komentar

  1. ketika seorang guru mendapatkan kasus seperti yang dipertanyakan dimana seorang siswa nya mengalami keterlambatan atau kesulitan, sebagai seorang guru mungkin bisa melakukan pendekatan atau pembimbingan terhadap siswa tersebut, karena setiap siswa memiliki gaya belajar yang berbeda, kemudian pada saat pembelajaran siswa diperkenalkan dengan kasus- kasus yang nyata yang dimulai dengan mengaitkan lingkungan dengan pembelajaran agar pembelajaran lebih bermakna. Kemudian kalau ditanya mana yang lebih berperan, ketiga nya sangatberkaitan, namun mungkin yang lebih berperan terlebih dahulu yaitu kognitif

    BalasHapus
  2. kalau menurut saya dalam hal masalah diatas yang sangat berperan dalam pemrosesan informasi seorang individu yaitu Bak memori, Proses kognitif. dimana informasi yang didapat seseorang individu akan terlebih dahulu disimpan di bak memori dan dilanjutkan proses kognitif. Solusinya, informasi yang kita dapatkan sebaiknya kita ulang-ulang dan dipelajari terus menerus.

    BalasHapus
  3. Yang paling berpengaruh adalah kognisi karena jika siswa tidak mampu secara kognisi maka mulai dari tahap pengetahuan , pemahaman , penerapan, analisa, sintesa dan evaluasi akan bermasalah dan akan terus berlanjut dengan skema yang terbentuk akan salah.

    BalasHapus
  4. menurut saya yanag berpengaruh adalah kognitifnya karena dengan adanya proses berfikir, sehingga bak memori yang mungkin kurang teratur akan menstimulus bak memori yang ada. karena walaupun bak memorinya penuh jika kurang diberikan stimulus dengan proses kognitif maka bak itu kurang berguna.

    BalasHapus
  5. kalau menurut saya dalam hal masalah diatas yang sangat berperan dalam pemrosesan informasi seorang individu yaitu Bak memori, Proses kognitif. dimana informasi yang didapat seseorang individu akan terlebih dahulu disimpan di bak memori dan dilanjutkan proses kognitif.

    BalasHapus
  6. Menurut saya ketiganya saling berhubungan. Jika daya ingatnya rendah tentu dalam hal kognitifnya juga rendah.

    BalasHapus
  7. Menurut saya yang sangat berpengaruh adalah kognitifnya, karena kognitif ini merupakan memproses aktifitas memori, karena jika dia menyimpan ingatan tetapi tidak mengetahui makna dari pembelajaran yang disimpan maka juga tidak terlalu bermanfaat

    BalasHapus
  8. menurut saya, ketiga nya berpengaruh, tapi yang paling berpengaruh adalah memori, karena jika memori nya baik, maka pembelajaran akan gampang diingat oleh siswa.

    BalasHapus
  9. cara atau solusi untuk siswa yang memiliki kesulitan dalam pemrosesan informasi yang diterimanya bisa dengan cara mengecek pemahaman siswa, mungkin dengan cara mengevaluasi pemahaman siswa dengan soal atau dengan pertanyaan pemahaman.

    BalasHapus
  10. Solusi dari permaslahan tersebut, ketiganya sangat berpengaruh, dari Bak memori, Proses kognitif, Metakognisi, yang paling berpengaruh adalah memori ingat siswa terus kognitif selanjutnya metakognisi, karena memori memperkuat daya ingat siswa yang dapat diaplikasikan melalui pengetahuan dan metakognisinya.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENILAIAN AFEKTIF

KISI-KISI UNTUK PENILAIAN KELAS DALAM MATEMATIKA

DESAIN PENILAIAN PERFORMANCE DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA