DESAIN PENILAIAN PERFORMANCE DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA


DESAIN PENILAIAN PERFORMANCE DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA
1.   Pengertian Asesmen
Shrock dan Coscarelli dalam (Karim, 2003:1) menyatakan bahwa asesmen adalah suatu proses pengumpulan informasi (dapat bersifat kualitatif maupun kuantitatif) yang dilakukan secara sistematis tanpa memperhatikan keputusan tentang nilai. Pengertian asesmen dalam kaitan dengan pembelajaran, menurut Hart (Karim, 2003:1) merupakan suatu proses pengumpulan informasi tentang apa yang diketahui dan apa yang dapat dikerjakan siswa. 

Beberapa istilah yang sering dikenal dan digunakan dalam suatu kegiatan asesmen menurut Karim (2003:5) yaitu: (1) Asesmen alternatif (alternative asessment), (2) Asesmen kinerja (performance assessment), dan (3) Asesmen otentik (authentic assessment). Ketika digunakan, ketiga istilah ini sering dipertukarkan karena mempunyai pengertian atau makna yang sama atau hampir sama. Sebenarnya ketiga istilah tersebut mempunyai pengertian atau makna yang berbeda.  
Tujuan dari asesmen adalah: (1) Untuk meningkatkan proses mengajar siswa dengan mengidentifikasi sumber-sumber kesalahan spesifik siswa yang memerlukan remedial/perbaikan, atau perilaku spesifik dalam pembelajaran yang memerlukan penguatan dan pengembangan atau dihilangkan dan diganti, (2) Untuk meningkatkan proses mengajar pelajaran dengan mengidentifikasi strategi- strategi pengajaran yang paling berhasil, (3) Untuk menginformasikan kekuatan dan kelemahan siswa, baik dalam pengetahuan juga dalam strategi pengajaran, (4) Menginformasikan kepada guru mengenai kompetensi siswanya. Hal ini dapat digunakan guru untuk mengadaptasikan pengajarannya sesuai dengan kebutuhan siswa, dan (5) Untuk menginformasikan kepada orang tua siswa mengenai kemajuan anaknya, Jackson (Jannete, dkk, 1999:271).
Asesmen sangat penting dalam proses pembelajaran, makanya dalam praktek asesmen di ruang kelas diperlukan standar-standar tertentu. NCTM (2000:2) menetapkan enam standar asesmen yaitu (1) Asesmen harus merefleksikan matematika yang diketahui dan dapat dikerjakan oleh siswa, (2) Asesmen dapat meningkatkan proses pembelajaran, (3) Asesmen harus mendorong keseimbangan, (4) Asesmen merupakan proses yang terbuka, (5) Asesmen harus mendorong kesimpulan valid mengenai pembelajaran matematika, dan (6) Asesmen harus merupakan proses yang koheren.


NCTM (Bryant & Mark, 1998:2-3) menyatakan bahwa proses asesmen ini memadukan empat fase. Fase tersebut adalah merencanakan atau merancang aktivitas, mencari fakta-fakta, menggunakan fakta-fakta dan meninterpretasi fakta-fakta. Secara bagan dapat digambarkan sebagai berikut:
 

2.  Asesmen Kinerja (Performance Assessment)
Asesmen kinerja merupakan asesmen yang mengharuskan siswa mempertunjukkan kinerja, bukan menjawab atau memilih jawaban dari sederetan kemungkinan jawaban yang sudah tersedia (Zainul, 2005:8). Misalnya dalam kinerja, siswa diminta untuk menjelaskan dengan kata-kata dan caranya sendiri terhadap permasalahan matematika. Menurut Marzano, dkk (1993:3) Asesmen kinerja merujuk pada tugas-tugas matematika dan situasi-situasi yang memungkinkan siswa untuk mendemonstrasikan pemahaman dan pemikiran mereka dan untuk mengaplikasikan pengetahuan dan keahlian mereka dalam berbagai konteks. Karim (2004:5) menyatakan bahwa asesmen kinerja menuntut para siswa untuk secara aktif melaksanakan tugas-tugas yang kompleks dan signifikan serta menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang relevan untuk menyelesaikan masalah-masalah realistik dan otentik. Selain itu, Nitko (Enger & Yager, 2001:18) menjelaskan bahwa asesmen kinerja merupakan prosedur penggunaan tugas-tugas yang bertujuan untuk mengetahui seberapa baik siswa telah belajar.
Asesmen kinerja dapat digunakan untuk memperoleh informasi mengenai pengetahuan matematika (mathematical knowledge), pengetahuan strategik (strategical knowledge) dan komunikasi matematik (communication). Dalam pengetahuan matematika yang diukur adalah (1) Apakah siswa  telah menunjukkan pemahaman yang benar terhadap konsep-konsep matematika, (2) Apakah siswa telah menggunakan terminologi dan notasi matematika dengan benar, dan (3) Apakah siswa telah menggunakan prosedur matematika dengan benar dan lengkap (Parke, dkk, 2003:151). Dalam pengetahuan strategik yang diukur adalah bagaimana strategi yang digunakan siswa dalam menyelesaikan masalah-masalah matematika, dan apakah proses penyelesaian yang  digunakannya sistematis dan lengkap. Dan dalam komunikasi yang dilihat apakah siswa dapat mengkomunikasikan penyelesaiannya dan menjelaskan strategi pemecahan yang digunakan baik secara lisan maupun tulisan kepada guru dan siswa lain.
Enam aktivitas yang mengambarkan penggunaan tugas-tugas kinerja dalam ruang kelas yaitu: 1) Mengeksplorasi lebih dari satu strategi, representasi dan jawaban-jawaban, 2) Memperbaiki respon-respon untuk meningkatkan kualitasnya, 3) Menggunakan kriteria yang telah ditentukan untuk menilai kualitas respon-respon, 4) Mengembangkan kriteria penskoran untuk mengevaluasi kualitas respon-respon, 5) Mengukur pengetahuan yang ada pada siswa, dan 6) Memonitor pembelajaran para siswa selam instruksional (Parke, dkk, 2003:3). 

3. Rubrik

 Rubrik digunakan untuk menilai kualitas dari tugas-tugas yang diberikan kepada siswa. Menurut Heidi Goodrich Andrade dalam (Zainul, 2003:5.17) mendefinisikan rubrik sebagai suatu alat penskoran yang terdiri dari daftar seperangkat kriteria atau apa yang harus dihitung. Karim (2004:8) menyatakan bahwa rubrik merupakan suatu himpunan kriteria yang telah ditetapkan untuk pemberian skor terhadap kinerja siswa. Rubrik digunakan karena tugas kinerja tidak memiliki solusi tunggal (Marzano, 1993:29). Sehingga kinerja mahasiswa tidak dapat dinilai “mesin skor”, tapi harus ditentukan oleh siswa itu sendiri atau siswa lain dalam kelompok atau perseorangan. Penskoran dalam rubrik terdiri dari skala tetap dan daftar karakteristik yang menggambarkan kinerja untuk masing- masing skala. Karena rubrik menggambarkan tingkat-tingkat kinerja dari siswa, maka rubrik sangat berguna bagi guru, siswa dan orang tua siswa, untuk mengetahui apa yang siswa ketahui dan dapat lakukan.Dalam asesmen kinerja, guru dan siswa dapat menggunakan rubrik yang sudah ada atau dapat mengembangkan rubrik sendiri. Tapi untuk mengembangkan sebuah rubrik memerlukan waktu yang cukup banyak. Rubrik QCAI mencakup tiga komponen yang saling berkaitan dan merefleksikan kerangka konseptual dari asesmen: (1) Konseptual dan prosedural matematik. (2) Pengetahuan strategik matematik dan (3) Komunikasi matematik. Rubrik yang digunakan QCAI adalah sebagai berikut:
Tabel.1 Rubrik asesmen kinerja

Skor
Pengetahuan Matematik
Pengetahuan Strategik
Komunikasi Matematika




4
Menunjukkan pemahaman terhadap konsep dan prinsip problem matematik, menggunakan terminologi dan notasi matematika yang sesuai dan mengerjakan algoritma secara komplit dan benar
Menggunakan informasi luar yang relevan baik formal maupun informal, mampu mengidentifikasi unsur-unsur penting dari masalah dan menunjukkan pemahaman terhadap hubungan- hubungan antara unsur-unsur tersebut. Merefleksikan strategi yang sesuai dan sistematik dari pemecahan masalah, dan memberikan bukti yang kuat dari proses
selesaian yang kuat dan sistematik
Memberikan respon yang lengkap dengan penjelasan yang jelas dan tidak membingungkan, termasuk diagram yang sesuai dan lengkap, mengkomunikasikan selesaian yang efektif, memberikan argumen pendukung yang kuat, logis dan lengkap, termasuk contoh-contoh dan kontra contoh




3
Menunjukkan pemahaman yang hampir benar terhadap konsep dan prinsip problem matematik, menggunakan hamper benar terminologi dan notasi matematika, mengerjakan algoritma secara lengkap, dan perhitungan yang secara umum benar tapi mungkin memuat kesalahan-kesalahan kecil.
Menggunakan informasi luar yang relevan baik formal maupun informal, mampu mengidentifikasi sebagian besar unsur-unsur penting dari masalah dan menunjukkan pemahaman yang umum dari hubungan-hubungan antara unsur- unsur tersebut, dan memberikan bukti yang kuat dari proses selesaian yang lengkap atau hampir lengkap dan sistematik.
Memberikan respon yang cukup lengkap dengan penjelasan atau deskripsi yang dapat dipertanggungjawabkan kejelasannya, mungkin memuat hampir lengkap diagram yang sesuai, secara umum mengkomunikasikan solusi secara efektif, menghadirkan argumen- argumen pendukung yang logis tapi mungkin memuat beberapa lompatan
(gap) kecil.




2
Menunjukkan pemahaman dari beberapa konsep atau prinsip problem matematik dan mungkin memuat kesalahan perhitungan yang serius
Dapat mengidentifikasi beberapa unsur penting dari masalah tapi menunjukan pemahaman yang terbatas dari hubungan antara unsur-unsur tersebut, dan memberikan beberapa bukti dari proses solusi, tapi proses solusinya mungkin tidak lengkap atau tidak sistematik.
Membuat kemajuan yang signifikan kearah solusi yang lengkap terhadap masalah, tapi penjelasan atau deskripsi mungkin membingungkan atau tidak jelas, mungkin membuat diagram yang tidak jelas, komunikasi sulit untuk diinterpretasi, dan argumen-argumen mungkin tidak lengkap  atau didasarkan pada premis-premis yang
tidak logis.




1

Menunjukkan pemahaman yang terbatas pada konsep dan prinsip problem matematik, mungkin salah menggunakan atau gagal dalam memakai bentuk-bentuk matematik, dan membuat kesalahan perhitungan yang besar.

Mungkin menggunakan informasi luar yang tidak relevan, gagal untuk mengidentifikasi unsur-unsur penting atau terlalu menekan pada unsur-unsur yang tidak penting, merefleksikan strategi yang tidak sesuai dari pemecahan masalah, memberikan bukti yang tidak kuat dari proses solusi, proses solusi mungkin tidak ada atau sulit untuk

mengidentifikasi atau tidak sistematik

Memiliki beberapa unsur-unsur yang sesuai tapi gagal untuk melengkapinya atau mungkin menghilangkan bagian- bagian penting dari masalah, penjelasan atau diskripsi mungkin keliru atau sulit untuk diikuti, mungkin memuat diagram representasi situasi masalah yang keliru atau diagram yang tidak jelas atau sulit untuk

diinterpretasi

 

 

 

PENUTUP


Asesmen kinerja merupakan prosedur penggunaan tugas-tugas yang bertujuan untuk mengetahui seberapa baik siswa telah belajar dan menuntut para siswa untuk secara aktif melaksanakan tugas-tugas yang kompleks dan signifikan serta menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang relevan untuk menyelesaikan masalah-masalah realistik dan otentik. Asesmen kinerja dapat digunakan untuk memperoleh informasi mengenai pengetahuan matematika (mathematical knowledge), pengetahuan strategik (strategical knowledge) dan komunikasi matematik (communication). Selain itu, asesmen kinerja memiliki beberapa keunggulan, yaitu (1) Memberikan kesempatan untuk mengaplikasikan ketrampilan menemukan, (2) Memberikan peluang untuk aplikasi-aplikasi pertanyaan-pertanyaan berakhir terbuka, (3) Mengembangkan kemampuan berfikir kritis siswa, (4) Memberikan bukti mengenai apa yang dapat siswa lakukan, (5) Memberikan kesempatan untuk kreatifitas siswa. Penggunaan tugas kinerja yang berpadu dengan pembelajaran matematika perlu dilakukan secara terus menerus dan konsisten. Hal ini bertujuan untuk membangun komunitas belajar yang dewasa.

PERTANYAAN:
Penilaian performance atau kinerja dalam pembelajaran matematika, salah satunya memiliki tujuan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan berpikir kritis, nah bagaimana berpikir kritis dapat diukur  sehingga guru dapat mengetahui kemampuan berpikir kritis pada masing-masing siswanya?

dan rancangan pembelajaran yang seperti apa yang bisa diterapkan untuk memacu kinerja atau performance pembelajaran matematika dalam berpikir kritis?

Komentar

  1. berfikir kritis merupakan salah suatu proses berfikir tingkat tinggi yaitu berpikir dengan konsep yang matang dan mempertanyakan segala sesuatu yang dianggap tidak tepat dengan cara yang baik. Bertanya dengan baik akan memperoleh jawaban yang baik, setidaknya respons yang baik. Dia tidak bersikap apatis terhadap sesuatu yang tidak beres. cara guru untuk mengetahui kemapuan berfikir siswa salah satunya dengan memberikan permasalahan yang membutuhkan penalaran, atau melakukan debat, atau dengan diskusi kelompok dari situ dapat diukur kemampuan berfikir kritis siswa,

    BalasHapus
  2. Berpikir kritis adalah sebuah proses yang sadar dan sengaja yang digunakan untuk menafsirkan dan mengevaluasi informasi dan pengalaman dengan sejumlah sikap reflektif . Adapun tahapan dari berpikir kritis yaitu:
    1.Menganalisis
    menganalisis merupakan suatu keterampilan menguraikan sebuah struktur ke dalam komponen-komponen agar mengetahui pengorganisasian struktur tersebut . Adapun yang mengindikasikan keterampilan berpikir analitis, diantaranya: menguraikan, membuat diagram, mengidentifikasi, menggambarkan, menghubungkan, memerinci, dan sebagainya. Hal-hal tersebut dapat dijadikan indikator dalam penilaian kinerja.
    2. Mensintesis
    mensintesis merupakan keterampilan yang berlawanan dengan keteramplian menganallsis. Keterampilan mensintesis adalah keterampilan menggabungkan bagian-bagian menjadi sebuah bentukan atau susunan yang baru. Pertanyaan sintesis menuntut pembaca untuk menyatupadukan semua informasi yang diperoleh dari materi bacaannya, sehingga dapat menciptakan ide-ide baru yang tidak dinyatakan secara eksplisit di dalam bacaannya.
    3. Mengenal dan Memecahkan Masalah
    merupakan keterampilan aplikatif konsep kepada beberapa pengertian baru. Keterampilan ini menuntut pembaca untuk memahami bacaan dengan kritis sehinga setelah kegiatan membaca selesai siswa mampu menangkap beberapa pikiran pokok bacaan, sehingga mampu mempola sebuah konsep. Tujuan keterampilan ini bertujuan agar pembaca mampu memahami dan menerapkan konsep-konsep ke dalam permasalahan atau ruang lingkup baru.
    4. Menyimpulkan
    menyimpulkan ialah kegiatan akal pikiran manusia berdasarkan pengertian/pengetahuan (kebenaran) yang dimilikinya, dapat beranjak mencapai pengertian/pengetahuan (kebenaran) yang baru yang lain (Salam, 1988: 68). Berdasarkan pendapat tersebut dapat dipahami bahwa keterampilan ini menuntut pembaca untuk mampu menguraikan dan memahami berbagai aspek secara bertahap agar sampai kepada suatu formula baru yaitu sebuah simpulan
    5. Mengevaluasi atau Menilai
    Keterampilan ini menuntut pemikiran yang matang dalam menentukan nilai sesuatu dengan berbagai kriteria yang ada. Keterampilan menilai menghendaki pembaca agar memberikan penilaian tentang nilai yang diukur dengan menggunakan standar tertentu.
    Berdasarkan kelima tahapan berpikir kritis diatas, kelimanya dapat terukur melalui penilaian kinerja yang dimana setiap pointnya menjadi indikator rubrik penilaian kinerja.

    BalasHapus

  3. untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya mengambil kutipan dari Rahmat (2010) yaitu untuk mengukur kemapuan berpikir kritis beliau merekomendasikan dua macam dasar yang bisa digunakan untuk menyusun instrumen ketrampilan berpikir kritis yaitu Taksonomi Bloom dan Pendekatan Pemecahan Masalah (Problem Solving). Taksonomi Bloom yang memuat level berpikir meliputi: ingatan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi tepat untuk mengintegrasikan pengembangan kemampuan berpikir kritis dan penguasaan ilmu pengetahuan. Sedangkan Pendekatan Pemecahan Masalah dapat dirumuskan dalam beberapa variabel berikut: tujuan, kata kunci permasalahan, menyikapi masalah, sudut pandang, informasi, konsep, asumsi, alternatif pemecahan masalah, interprestasi, dan implikasi.

    BalasHapus
  4. Asesmen kinerja merupakan prosedur penggunaan tugas-tugas yang bertujuan untuk mengetahui seberapa baik siswa telah belajar dan menuntut para siswa untuk secara aktif melaksanakan tugas-tugas yang kompleks dan signifikan serta menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang relevan untuk menyelesaikan masalah-masalah realistik dan otentik. Asesmen kinerja dapat digunakan untuk memperoleh informasi mengenai pengetahuan matematika (mathematical knowledge), pengetahuan strategik (strategical knowledge) dan komunikasi matematik (communication).

    rancangan pembelajaran dengan cara (1) Memberikan kesempatan untuk mengaplikasikan ketrampilan menemukan, (2) Memberikan peluang untuk aplikasi-aplikasi pertanyaan-pertanyaan berakhir terbuka, (3) Mengembangkan kemampuan berfikir kritis siswa, (4) Memberikan bukti mengenai apa yang dapat siswa lakukan, (5) Memberikan kesempatan untuk kreatifitas siswa. Penggunaan tugas kinerja yang berpadu dengan pembelajaran matematika perlu dilakukan secara terus menerus dan konsisten. Hal ini bertujuan untuk membangun komunitas belajar yang dewasa.

    BalasHapus
  5. Menurut saya untuk mengukur berpikir kreatif, salah satu caranya adalah dengan memberi soal2 HOTS yg menuntut penalaran siswa bukan hanya penerapan konsep di soal,, tapi dikaitkan dalam persoalan aplikasi

    BalasHapus
  6. dengna memberikan pertanyaan yang dapat berpikir kreatif siswa dapat terlihat salha satunya dengn soal open-ended

    BalasHapus
  7. Menurut saya berfikir kritis dapat dilihat melalui penilaian dalam bentuk tes berupa soal dalam bentuk pemecahan masalah, karena dengan soal dalam bentuk pemecahan masalah dapat meningkatkan siswa untuk bernalar sehingga dapat berfikir kritis

    BalasHapus
  8. menurut saya dengan memberikan pertanyaan yang non rutin yang mengandungng agar dapat memperlihatkan sejauh mana tingkat berpikir kritis siswa. terima kasih

    BalasHapus
  9. dengan cara memperhatikan jawaban siswa, apakah dia mampu memberi masukan baru atau beragumen dengan baik.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENILAIAN AFEKTIF

KISI-KISI UNTUK PENILAIAN KELAS DALAM MATEMATIKA