PENILAIAN AFEKTIF


PENILAIAN AFEKTIF

Afektif atau sikap merupakan suatu kecendrungan tingkah laku untuk berbuat sesuatu dengan cara, metode, teknik, dan pola tertentu terhadap dunia sekitarnya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Afektif adalah berkenaan dengan rasa takut atau cinta, mempengaruhi keadaan, perasaan dan emosi, serta mempunyai gaya atau makna yang menunjukkan perasaan. Muhajir (1992) menjelaskan bahwa sikap merupakan kecendrungan afeksi, suka atau tidak suka pada suatu objek social. Harvey dan Smith (1991) berpendapat bahwa sikap adalah kesiapan merespons secara konsisten dalam bentuk positif atau negative terhadap objek atau situasi. Eagly & Chaiken (1993) sikap adalah “ a psychological tendency that is expressed by evaluating a particular entity with some degree of favor or disfavor”.
Keempat pendapat tersebut memiliki kesamaan, yaitu bahwa sikap merupakan reaksi seseorang dalam menghadapi suatu objek. Menurut Sumarna (2004) bahwa objek sikap yang perlu dinilai dalam proses pembelajaran adalah :
  • Sikap terhadap materi pelajaran, peserta didik perlu memiliki sikap positif terhadap materi pelajaran. Dengan Siokap positif peserta didik akan tumbuh minat belajar, akan lebih mudah diberi motivasi, dan akan lebih mudah menyerap materi pelajaran yang di ajarkan.
  • Sikap terhadap guru atau pengajar. Peserta didik perlu memiliki sikap positif terhadap guru. Peserta didik yang tidak memiliki sikap positif terhadap guru akan cendrung mengabaikan hal- hal yang diajarkan. Dengan dimikian, peserta didik yang memiliki sikap negative terhadap guru/ pengajar akan sukar menyerap materi pelajaran yang diajarkan oleh guru tersebut.
  • Sikap terhadap proses pembelajaran. Peserta didik perlu memiliki sikap positif terhadap proses pembelajaran yang berlangsung. Proses pembelajaran mencakup suasana pembelajaran, strategi, metodologi dan teknik pembelajaran yang digunakan. Proses pembelajaran yang menarik, nyaman dan menyenangkan dapat menumbuhkan  belajar peserta didik, sehingga dapat mencapai hasil belajar yang maksimal.
  • Sikap berkaitan dengan nilai atau norma yang berhubungan dengan suatu materi pelajaran.
Dengan demikian penilaian efektif adalah penilaian terhadap reaksi seseorang atau peserta didik tentang suatu objek yang telah diuraikan di atas. Sikap bermula dari perasaan  (suka atau tidak suka ) yang terkait dengan kecendrungan seseorang dalam merespon sesuatu/objek. Sikap juga sebagai ekspresi dari nilai atau pandangan hidup yang dimiliki oleh  seseorang. Sikap  dapat dibentuk, sehingga terjadi  perilaku atau tindakan  yang diinginkan. Sikap terdiri dari tiga komponen yaitu: afektif, kognitif dan konatif. Komponen afektif adalah perasaan yang dimiliki oleh seseorang  atau peni;aian terhadap suatu objek, Kompenen kognitif adalah kepercayaan  atau keyakinan seseorang mengenai objek. Adapun komponen konatif kecendrungan untuk berperilaku atau berbuat dengan cara-cara tertentu berkenaan dengan kehadiran objek sikap. ( Rusgiyanto, 2005). Menurut Sudaryono (2012) sikap merupakan variable tersembunyi yang tidak dapat diamati secara langsung, tetapi dapat disimpulkan melalui tingkah laku.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa sikap merupakan keadaan internal seseorang, berupa kecendrungan atau kesiapan memberikan respon meliputi kognitif, afeksi dan konatif terhadap suatu stimulus dari lingkungan sekitarnya, Yang harus digarisbawahi adalah penilaian sikap tidak berdiri sendiri. Penilaian sikap terintegrasi dengan penilaian pengetahuan dan penilaian keterampilan.
  1. Tingkatan dan Jenis Ranah Afektif
    1. Tingkatan Ranah Afektif
Menurut Krathwohl (1973) bila ditelusuri hampir semua tujuan kognitif mempunyai komponen afektif. Dalam pembelajaran sains, misalnya, di dalamnya ada komponen sikap ilmiah. Sikap ilmiah adalah komponen afektif. Tingkatan ranah afektif menurut taksonomi Krathwohl ada lima, yaitu: receiving (attending), responding, valuing, organization, dan characterization.
  1. Tingkat Receiving
Receiving atau attending (menerima atau memperhatikan), adalah kepekaan seseorang dalam menerima rangsangan (stimulus) dari luar yang datang kepada dirinya dalam bentuk masalah, situasi, gejala dan lain-lain. Termasuk dalam jenjang ini misalnya adalah kesadaran dan keinginan untuk menerima stimulus, mengontrol dan menyeleksi gejala-gejala atau rangsangan yang datang dari luar. Receiving atau attenting juga sering diberi pengertian sebagai kemauan untuk memperhatikan suatu kegiatan atau suatu objek. Pada jenjang ini peserta didik dibina agar mereka bersedia menerima nilai atau nilai-nilai yang diajarkan kepada mereka, dan mereka mau menggabungkan diri ke dalam nilai itu atau mengidentifikasikan diri dengan nilai itu.
Pada tingkat receiving atau attending, peserta didik memiliki keinginan memperhatikan suatu fenomena khusus atau stimulus, misalnya kegiatan belajar, kegiatan musik, kegiatan olahraga, dan sebagainya. Tugas pendidik mengarahkan perhatian peserta didik pada fenomena yang menjadi objek pembelajaran afektif. Misalnya pendidik mengarahkan peserta didik agar senang membaca buku, senang bekerjasama, dan sebagainya. Kesenangan ini akan menjadi kebiasaan, dan hal ini yang diharapkan, yaitu kebiasaan yang positif.
  1. Tingkat Responding
Responding merupakan partisipasi aktif peserta didik, yaitu sebagai bagian dari perilakunya. Pada tingkat ini peserta didik tidak saja memperhatikan fenomena khusus tetapi ia juga bereaksi. Hasil pembelajaran pada ranah ini menekankan pada pemerolehan respons, berkeinginan memberi respons, atau kepuasan dalam memberi respons. Tingkat yang tinggi pada kategori ini adalah minat, yaitu hal-hal yang menekankan pada pencarian hasil dan kesenangan pada aktivitas khusus. Misalnya senang membaca buku, senang bertanya, senang membantu teman, senang dengan kebersihan dan kerapian, dan sebagainya.
  1. Tingkat Valuing
Valuing adalah sesuatu yang memiliki manfaat atau kepercayaan atas manfaat sesuatu. Hal ini menyangkut pikiran atau tindakan yang dianggap sebagai nilai keyakinan atau sikap dan menunjukan derajat internalisasi dan komitmen. Derajat rentangannya mulai dari menerima suatu nilai, misalnya keinginan untuk meningkatkan keterampilan, sampai pada tingkat komitmen. Valuing atau penilaian berbasis pada internalisasi dari seperangkat nilai yang spesifik. Hasil belajar pada tingkat ini berhubungan dengan perilaku yang konsisten dan stabil agar nilai dikenal secara jelas. Dalam tujuan pembelajaran, penilaian ini diklasifikasikan sebagai sikap dan apresiasi.
Valuing merupakan tingkat afektif yang lebih tinggi lagi daripada receiving dan responding. Dalam kaitan dalam proses belajar mengajar, peserta didik di sini tidak hanya mau menerima nilai yang diajarkan tetapi mereka telah berkemampuan untuk menilai konsep atau fenomena, yaitu baik atau buruk. Bila suatu ajaran yang telah mampu mereka nilai dan mampu untuk mengatakan “itu adalah baik”, maka ini berarti bahwa peserta didik telah menjalani proses penilaian. Nilai itu mulai dicamkan (internalized) dalam dirinya. Dengan demikian nilai tersebut telah stabil dalam peserta didik.
  1. Tingkat Organization
Organization (mengatur atau mengorganisasikan), artinya mempertemukan perbedaan nilai sehingga terbentuk nilai baru yang universal, yang membawa pada perbaikan umum. Mengatur atau mengorganisasikan merupakan pengembangan dari nilai ke dalam satu sistem organisasi, termasuk di dalamnya hubungan satu nilai dengan nilai lain, pemantapan dan perioritas nilai yang telah dimilikinya. Hasil pembelajaran pada tingkat ini berupa konseptualisasi nilai atau organisasi sistem nilai. Misalnya pengembangan filsafat hidup.
  1. Tingkat Characterization
Characterization (karakterisasi dengan suatu nilai atau komplek nilai), yakni keterpaduan semua sistem nilai yang telah dimiliki oleh seseorang, yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya. Di sini proses internalisasi nilai telah menempati tempat tertinggi dalam suatu hirarki nilai. Nilai itu telah tertanam secara konsisten pada sistemnya dan telah mempengaruhi emosinya. Ini merupakan tingkat efektif tertinggi, karena sikap batin peserta didik telah benar-benar bijaksana. Ia telah memiliki phyloshopphy of life yang mapan. Jadi pada jenjang ini peserta didik telah memiliki sistem nilai yang telah mengontrol tingkah lakunya untuk suatu waktu yang lama, sehingga membentu karakteristik “pola hidup” tingkah lakunya menetap, konsisten dan dapat diramalkan. Hasil pembelajaran pada tingkat ini berkaitan dengan pribadi, emosi, dan sosial.
  1. Jenis Ranah Afektif
Pemikiran atau perilaku harus memiliki dua kriteria untuk diklasifikasikan sebagai ranah afektif (Andersen, 1981: 4). Pertama, perilaku melibatkan perasaan dan emosi seseorang. Kedua, perilaku harus tipikal perilaku seseorang. Kriteria lain yang termasuk ranah afektif adalah intensitas, arah, dan target. Intensitas menyatakan derajat atau kekuatan dari perasaan. Beberapa perasaan lebih kuat dari yang lain, misalnya cinta lebih kuat dari senang atau suka. Sebagian orang kemungkinan memiliki perasaan yang lebih kuat dibanding yang lain. Arah perasaan berkaitan dengan orientasi positif atau negatif dari perasaan yang menunjukkan apakah perasaan itu baik atau buruk. Misalnya senang pada pelajaran dimaknai positif, sedang kecemasan dimaknai negatif. Bila intensitas dan arah perasaan ditinjau bersama-sama, maka karakteristik afektif berada dalam suatu skala yang kontinum. Target mengacu pada objek, aktivitas, atau ide sebagai arah dari perasaan. Bila kecemasan merupakan karakteristik afektif yang ditinjau, ada beberapa kemungkinan target. Peserta didik mungkin bereaksi terhadap sekolah, matematika, situasi sosial, atau pembelajaran. Tiap unsur ini bisa merupakan target dari kecemasan. Kadang-kadang target ini diketahui oleh seseorang namun kadang-kadang tidak diketahui. Seringkali peserta didik merasa cemas bila menghadapi tes di kelas. Peserta didik tersebut cenderung sadar bahwa target kecemasannya adalah tes.
Objek ranah afektif menurut Krathwohl (1973: 24) unsur-unsurnya terdiri dari minat (interest), sikap (attitude), nilai (value), apresiasi (apresiation), dan penyesuaian (adjustmen). Fishbein dan Ajzen (1975) membagi dalam kepercayaan (belief), sikap (attitude), keinginan/maksud (intention), dan perilaku (behaviour). Berbeda dengan Fishbein dan Ajzen, Hammond (Worthen dan Sanders, 1973) menyatakan bahwa objek afektif meliputi unsur perhatian, minat (interest), sikap (attitude), perasaan (feeling), dan emosi (emotion). Menurut Hopkins dan Antes (1990), unsur-unsur ranah afektif meliputi emotion, interest, attitude, value, character development, dan motivation. Mardapi (2011: 183) menambahkan bahwa karakter juga merupakan bagian dari ranah afektif. Berdasarkan uraian di atas, dapat diidentifikasikan bahwa unsur-unsur ranah afektif paling tidak meliputi: perhatian/minat, sikap, nilai, apresiasi, karakter, kepercayaan, perasaan, emosi perilaku, keinginan, dan penyesuaian.


  1. Karakter
Karakter adalah tabiat, watak, akhlak, atau kepribadian seseorang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan yang diyakini sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, dan bertindak. Kebajikan terdiri atas sejumlah nilai dan norma (Pusat Pengembangan Kurikulum, 2010: 3). Aristotle, filsof Yunani, menyatakan bahwa karakter yang baik merupakan pengamalan tingkah laku yang benar (Lickona, 1991:50). Tingkah laku yang benar dilihat dari sisi orang lain dan lingkungan. Lebih lanjut Aristotle mengatakan bahwa kehidupan pada zaman modern cenderung melupakan budi pekerti termasuk orientasi diri, seperti kontrol diri, sikap dermawan, dan rasa sosial. Karakter adalah seperangkat trait yang menentukan sosok seseorang sebagai individu (Kurtus, 2010). Karakter menentukan apakah sesorang dalam mencapai keinginannya menggunakan cara yang benar menurut lingkungannya dan mematuhi hukum dan aturan kelompok. Jadi, karakter merupakan sifat atau watak seseorang yang bisa baik dan bisa tidak baik berdasarkan penilaian lingkungannya.
Karakter berkaitan dengan personalitas walaupun ada perbedaannya. Personalitas merupakan trait bawaan sejak lahir, sedang karakter merupakan perilaku hasil pembelajaran. Sesorang lahir dengan trait personaliti tertentu, Seseorang ada yang pemalu dan ada yang terbuka dan mudah bicara. Klasifikasi lain adalah apakah sesorang beroritentasi pada tugas atau senang kegiatan sosial. Hal ini yang menjadikan sesorang memiliki sifat ingin menguasai, ingin mempengaruhi, personaliti stabil atau patuh.
Karakter pada dasarnya diperoleh melalui interaksi dengan orang tua, guru, teman, dan lingkungan. Karakter diperoleh dari hasil pembelajaran secara langsung atau pengamatan terhadap orang lain. Pembelajaran langsung dapat berupa ceramah dan diskusi tentang karakter, sedang pengamatan diperoleh melalaui pengalaman sehari-hari apa yang dilihat di lingkungan termasuk media televisi. Karakter berkaitan dengan sikap dan nilai. Sikap merupakan predisposisi terhadap suatu objek atau gejala, yaitu positif atau negatif. Nilai berkaitan dengan baik dan buruk yang berkaitan dengan keyakinan individu. Jadi, karakter seseorang dibentuk melalui pengalaman sehari-hari, apa yang dilihat dan apa yang didengar terutama dari seseorang yang menjadi acuan atau idola seseorang.
Karakter yang baik melibatkan pemahaman, perhatian, dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai etika. Peserta didik berkembang untuk memahamai nilai inti dengan mempelajarinya, mendiskusikannya, mengamati model perilaku, dan memecahkan masalah yang mencakup nilai-nilai. Jadi, peserta didik harus paham nilai inti dan komitmen mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Karakter sering didefinisikan sebagai melakukan yang benar tanpa ada yang melihat. Etika yang baik adalah selalu mengikuti aturan yang telah disepakati, menghargai hak dan kebutuhan orang lain, tidak takut hukuman atau ingin mendapat pujian saja. Peserta didik diharapkan menjadi orang selalu berbuat baik kepada orang lain. Untuk itu, sekolah harus bekerja sama dengan peserta didik dalam memahami aturan, dan kesadaran akan pengaruh tingkah laku seseorang terhadap orang lain. Tanamkan keyakinan bahwa untuk memperoleh perlakukan yang baik harus memberi kebaikan kepada orang lain.
Karakter yang selalu dikaitkan dengan pendidikan karakter sering digunakan untuk menyatakan seberapa baik seseorang. Atau dengan kata lain, seseorang yang menampilkan kualitas personal yang cocok dengan yang diinginkan masyarakat dapat dinyatakan memiliki karakter yang baik dan mengembangkan kualitas karakter sering dilihat sebagai tujuan pendidikan. Komponan ini merupakan bagian dari aspek afektif pada standar nasional pendidikan.
Pendidikan karakter adalah bagian dari ranah afektif (Mardapi, 2011: 183). Namun demikian, perhatian terhadap domain ini masih hanya sekedar pada usaha untuk memupuk sikap dan karakter siswa selama proses pembelajaran. Padahal untuk menentukan sejauh mana hasil dan kualitas pembelajaran terlebih untuk menentukan langkah lanjutan maupun langkah perbaikan, mutlak bersandar pada proses dan hasil evaluasi yang memadai dan relevan.

PERTANYAAN:
Menurut beberapa para ahli, afektif  atau sikap seseorang terbentuk sejak dari kandungan dan berawal dari lingkungan keluarga dan lingkungan sekitar atau dengan kata lain ketika siswa duduk di SMA maka afektif yang dimiliki siswa tersebut ialah pembawaan sejak kecil dari keluarganya. nah pertanyaannya, apakah peran guru yang baik untuk meningkatkan afektif seseorang dalam proses pembelajaran matematika?


1.        

Komentar

  1. Walaupun setiap anak dididik dimulai dari lingkungan keluarga, namun guru masih bisa memberikan stimulus untuk mengembangkan afektif siswa, dengan cara di setiap pembelajaran guru menyelipkan nilai nilai moral pada siswa, seperti kedisiplinan, kejujuran dan sebagainya

    BalasHapus
  2. peran guru dalam meningkatkan afektif siswa dalam proses pembelajaran yaitu setiap dalam proses pembelajaran, guru harus menjelaskan nilai- nilai moral yang terdapat dalam pembelajaran yang berlangsung

    BalasHapus
  3. Untuk meningkatkan peran efektifitas seorang guru harus melakukan hal unyuk membuat lebih memahami arah pembelajaran sehingga siswa lebih cenderung bergikir kritis.

    BalasHapus
  4. Untuk meningkatkan peran efektifitas seorang guru harus melakukan hal unyuk membuat lebih memahami arah pembelajaran sehingga siswa lebih cenderung bergikir kritis.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

KISI-KISI UNTUK PENILAIAN KELAS DALAM MATEMATIKA

DESAIN PENILAIAN PERFORMANCE DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA